Bagi sebagian besar mahasiswa, menembus jurnal internasional bereputasi tinggi seperti Scopus Q1 mungkin terdengar seperti mimpi yang terlampau jauh. Namun, bagi Muhammad Handzalah Ridwan, mahasiswa Ilmu Komunikasi PSDKU Universitas Padjadjaran (Unpad) Pangandaran angkatan 2023, pencapaian tersebut adalah buah dari ketekunan, penolakan berulang, hingga pengorbanan fisik yang luar biasa.
Berawal dari Proyek “Cari Nilai”
Prestasi besar ini nyatanya berawal dari hal yang sangat sederhana: tugas akhir mata kuliah Metode Survei di semester 3. Pada awalnya, Handzalah mengaku hanya berniat menyelesaikan kewajiban akademik. Tidak ada ambisi besar untuk melakukan publikasi internasional saat riset itu dimulai. “Awalnya hanya untuk memenuhi nilai gitu lah. Publish sebenarnya saya hanya anggap sebagai bonus saja,” ungkap Handzalah mengenang awal perjalanannya.
Namun, potensi riset tersebut terbaca oleh dosen pengampu yang kemudian mendorongnya untuk melakukan pengembangan lebih lanjut ke tingkatan yang lebih tinggi. Dari sebuah tugas kuliah, riset tersebut bertransformasi menjadi proyek serius yang melibatkan bimbingan intensif selama hampir satu tahun penuh, dengan dukungan dari peneliti BRIN.
“Terbentur, Terbentur, Terbentur, Terbentuk”
Perjalanan Handzalah menuju Scopus Q1 tidaklah mulus. Sebelum berhasil, ia harus menelan pil pahit penolakan berkali-kali. Upaya pertamanya untuk mempublikasikan riset di jurnal Sinta 2 ditolak. Tak patah arang, ia mencoba menaikkan level ke Scopus Q2, namun pada bulan September, ia kembali mendapatkan penolakan untuk kedua kalinya.
Momen tersebut sempat membuatnya goyah. “Wah, di situ kan aduh bingung gini. Emang benar nih risetnya bisa tingkatannya internasional? Karena sudah ditolak dua kali, jadi agak pesimis,” ujarnya. Namun, berkat dorongan dosen pembimbing untuk mencoba sekali lagi, usaha ketiganya justru membuahkan hasil yang jauh lebih baik: Accepted di Jurnal Q1.
“Semua Itu Ada Harganya”
Di balik gemerlap status publikasi Q1, terdapat perjuangan fisik yang jarang diketahui orang. Handzalah harus menyeimbangkan antara perkuliahan yang padat, tanggung jawab besar di organisasi, dan revisi riset yang tak henti.
Tekanan luar biasa ini membuat kesehatan fisiknya tumbang dua kali. Setelah sempat dirawat di klinik, Handzalah kembali jatuh sakit saat menghadapi UTS hingga harus dirujuk ke rumah sakit selama seminggu akibat tipes, maag, dan kekurangan sel darah merah. Kondisi ini memaksanya menjalani pemulihan total di kampung halamannya, Cianjur.
Pengorbanan tersebut terlihat nyata secara fisik; berat badannya turun drastis sebanyak 10 kilogram. Namun baginya, hal itu adalah konsekuensi dari sebuah komitmen. “Semua itu harus ada harganya, pengorbanan yang harus dibayar. Tidak bisa kita mau hasil besar tapi pengorbanan yang kecil,” tegasnya.
Menjadi Sosok yang Impactful
Riset Handzalah yang berjudul “Unlocking Healthcare Access Through Mobile Health: Task-Technology Fit and User Engagement in Indonesia” lahir dari kegelisahan melihat fenomena di lapangan. Ia mengamati bagaimana masyarakat, khususnya generasi tua, masih sering kesulitan mengoperasikan aplikasi Mobile JKN hingga harus bergantung pada bantuan petugas keamanan di fasilitas kesehatan.
Melalui publikasi ini, Handzalah menyadari urgensi sebuah riset yang tidak hanya berhenti di atas kertas. “Saya merasa bangga bisa menjadi orang yang impactful. Bukan hanya untuk kampus, tapi juga masyarakat secara luas dalam mengoptimalkan sistem kesehatan digital.”
Pencerahan Jati Diri
Pencapaian ini pada akhirnya menjadi titik balik bagi mahasiswa semester 6 ini dalam menemukan jati diri. Jika awalnya ia masuk Ilmu Komunikasi dengan pemikiran sederhana untuk bekerja di industri televisi, kini ia memantapkan visi untuk menjadi seorang peneliti, khususnya di bidang komunikasi politik dan luar negeri.
Sebagai pesan penutup untuk rekan-rekan mahasiswa yang mungkin merasa prestasi serupa mustahil diraih, Handzalah mengutip petuah legendaris dari Buya Hamka: “Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas.”
Ia menekankan bahwa kesempatan tidak datang dengan menunggu, melainkan dengan mencari dan terus meng-upgrade diri. Bagi Handzalah, kegagalan hanyalah bagian dari proses evaluasi. “Dicoba-coba hancurlah. Terbentur, terbentur, terbentur, sampai terbentuk,” pungkasnya.

No responses yet