Program Studi Ilmu Komunikasi K. Pangandaran kembali menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “Ekologi Media Baru dan Konvergensi,” pada Selasa, 19 Mei 2026. Kegiatan ini menghadirkan Agatha Olivia Victoria, jurnalis dari Kantor Berita ANTARA, sebagai pembicara utama dalam mata kuliah Komunikasi Massa dan Media.
Kuliah umum ini menjadi bagian dari upaya Program Studi Ilmu Komunikasi K. Pangandaran untuk memperkaya wawasan mahasiswa melalui pengalaman dan perspektif langsung dari praktisi media. Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, mahasiswa diajak memahami bagaimana media massa terus beradaptasi menghadapi perubahan pola konsumsi informasi masyarakat.
Dalam paparannya, Agatha menjelaskan bahwa media tradisional kini dituntut untuk beradaptasi dan berinovasi agar tidak tergerus oleh derasnya arus digitalisasi. Salah satu poin utama yang disampaikan adalah pergeseran fungsi media massa, dari yang dulu menjadi pihak pertama yang mengabarkan suatu peristiwa, kini media berperan sebagai lembaga penjernih informasi. Peran tersebut membuat tugas utama jurnalis bukan lagi sekadar menjadi yang tercepat dalam menyajikan informasi, melainkan memastikan dan memverifikasi kebenaran di balik informasi yang tersebar di tengah masyarakat.
Agatha juga membahas fenomena masyarakat “Sumbu Pendek”, yakni kebiasaan menelan informasi mentah tanpa proses penyaringan, yang diperparah oleh prasangka dan confirmation bias. Ia menekankan pentingnya prinsip check and recheck, mengibaratkan media massa selayaknya saringan yang harus memurnikan berbagai arus informasi di media sosial yang kerap mengandung misinformasi.
Topik lain yang menjadi sorotan dalam kuliah umum ini adalah peralihan kendali dari editor manusia ke algoritma platform teknologi seperti Meta, Google, dan TikTok yang kini berfungsi sebagai “The New Gatekeeper“. Algoritma semacam ini bekerja secara tersembunyi dan lebih mengutamakan agar pengguna betah berlama-lama di aplikasi, demi keuntungan iklan. Akibatnya, orang cenderung hanya melihat informasi yang sesuai dengan minat dan pandangannya sendiri, sehingga muncul kelompok-kelompok yang semakin terkotak-kotak dan sulit menerima pandangan berbeda.
Mengakhiri paparannya, Agatha mengingatkan bahwa di tengah maraknya manipulasi algoritma dan judul-judul clickbait, peran mata kuliah komunikasi media dan massa menjadi semakin krusial. Ia mendorong mahasiswa untuk senantiasa berpikir kritis guna menjaga kedaulatan berpikir dan memutus rantai penyebaran hoaks, tanpa harus bersikap anti-teknologi. Sikap kritis ini diharapkan dapat membuat mahasiswa lebih sadar terhadap proses produksi dan distribusi informasi serta kepentingan di baliknya.
Melalui kuliah umum ini, Program Studi Ilmu Komunikasi K. Pangandaran berharap dapat terus menghadirkan diskusi-diskusi yang relevan dengan perkembangan industri, sekaligus mendorong mahasiswa untuk berperan aktif dalam menjaga ekosistem informasi yang sehat sebagai salah satu pilar demokrasi.
Dengan menghadirkan praktisi profesional dari industri media, Program Studi Ilmu Komunikasi K. Pangandaran terus berupaya membekali mahasiswa dengan pemahaman yang kontekstual dan relevan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan program studi dalam mencetak lulusan yang adaptif, kritis, dan mampu berkontribusi dalam menciptakan ekosistem informasi yang sehat di tengah tantangan transformasi digital yang terus berkembang.

No responses yet